Wah, Ini Parah, Buk, Harus Ganti Anunya!




MIO ini bermasalah dengan poly. Lengket. Akibatnya, suaranya parau dan berisik. Sudah setahun. Sudah singgah di beberapa bengkel. Hasilnya? Penyakitnya tak cegak-cegak.

Saya heran dengan mekanik-mekanik bengkel itu. Tak satu pun yang mampu menemukan solusi cespleng mengatasi problem poly ini. Rerata solusi mereka, "Harus ganti poly nih, Bang!"

Harga poly nyaris satu jutaan. Bagarah kaji namanya tuh..!!!

Sebermasalah-masalahnya mesin atau elemennya, pasti bisa diatasi, diperbaiki. Beli baru artinya bukan memperbaiki. Apa karena mekanik jaman sekarang produk milenial yang berpikir serba instan dan tak tahan banting? Rusak dikit ganti baru.

Di Pondok Kopi Jaktim, dulu saya  langganan satu bengkel servis motor. Dua mekaniknya pintar, jenius. Dia bisa mendiagnosa penyakit motor. Apa pun, dan bisa diperbaiki. Jujur pula, kalau gak harus ganti dia bilang gak usah ganti dst...dst.

Ada yang jujur dan gak main pakuak harga, tapi kemampuan analisisnya lemah. Meraba-raba aja.

Akhirnya kita yang terbit raba.

Kebanyakan mekanik sekarang, begitu kita datang, motor langsung ditelanjangi, tanpa tanya-tanya dulu, tanpa dites jalan dulu. Kadang, yang diservis lain dengan keluhan.  Jengkelnya, yang culas juga banyak. Apa-apa mesti ganti. Apalagi kalau pasiennya buk-ibuk. 

"Wah, ini parah, Buk. Harus ganti anunya!"

"Harus ganti belting nih, Buk!" (padahal masih bisa pake beberapa bulan lagi)

Barangkali metode pengajaran di SMK otomotif harus diperbaiki, kayaknya nih. Mesti diperbaiki code of conductnya.

Orat-oret ini selesai begitu servis selesai. Dan bunyinya tetap: parau dan berisik.

"Berapa, bos?"
"Pat puluh aja!"