NARASI yang diluncurkan narasi yang lemah dan buruk sekali. Sontoloyo, genderuwo, budek, asu dan semacamnya.
Kita curiga, narasi itu lahir dari ketidakmapuan merumuskan dan mendeskripsikan ide, atau memang sengaja untuk membuat sesi kampanye jelang pilpres menjadi heboh dan hiruk pikuk?
Lantas kita lupa mendiskusikan dan berdebat soal ide, visi misi dan capaian petahana. Jangan-jangan semua itu (ide, visi misi, dan capaian petahana) memang memiliki banyak kelemahan yang membuatnya menjadi menganga sebagai ruang tembak bagi penantang?
Ruang tembak itu sangat banyak. Sebut saja penegakan hukum yang berat sebelah, impor yang dikritik petani dan pemerhati ekonomi, capaian pembangunan infrastruktur yang akhirnya ketahuan tak sesuai dengan apa yang selama ini diiklankan di layar-layar bioskop, banyaknya kepala daerah dari partai anu yang diciduk KPK, soal Naker asing yang merubungi tanah air, cerita Freeport yang tak sesuai dengan apa yang dicitrakan, dan seterusnya, dan seterusnya
Kelemahan leadership dan intelektualitas petahana akhirnya diakali dengan melakukan banyak gimmick, Mulai dari naik motor trail, stuntman, nonton Dilan (bahkan yang ini pun bikin kita ngakak ketika petahana ditanya wartawan komentarnya tentang cerita Dilan yang dijawab dengan sangat kacau alias tak jelas).
Lalu, dicoba berbagai instrumen kemilenialan lainnya (tepat ga sik istilah ini😛) seperti pakai jaket anak-anak muda, nonton konser GNR, dan seterusnya.
Petahana bahkan akibat nonton konser itu yang konon sempat berselfie ria, telah membuat ribuan guru honorer patah hati dan nelangsa.
Betapa tidak, Didatangi ribuan guru honorer ke istana beliau ngacir ke pasar di Bogor, eh didatangi Gun N Roses direncanakan mendadak hadir. Kata para honorer, "sakitnya tuh di cinnnihh".
Padahal kita waktu itu berharap petahana secara jantan dan kebapakan menemui para bapak dan ibu guru itu dan menenangkan mereka. Itu sudah menjadi pelepas dahaga bagi mereka. Sayangnya itu tak terjadi.
Lalu, akibat kita dibuat sibuk mempertengkarkan narasi-narasi buruk petahana itu, kita lupa soal perkembangan penanganan korban gempa Lombok dan Palu.
Kita lupa mempersoalkan "30 ribu motor gesit yg sudah dipesan" padahal belum ada harganya, produksinya berapa, agensinya siapa, websitenya mana. Ujug-ujug sudah ada yang pesan. 30 ribu unit. Kita terasa macam orang bodoh membaca info seperti itu dari petahana.
Kita lupa hal-hal yang substantif mengenai silang sengkarut negeri ini.
Kita tidak tahu apakah ini trik menghindari perdebatan berkelas atau memang karena ketidakmampuan membangun narasi bagus?
Hari-hari ini dan kedepan kita masih akan disuguhi hal-hal yang melenakan. Hal yang remeh temeh. Atau hal-hal yang tetek bengek (pernah emang liat tetek yang bengek ?)
Udahan ya, saya mau bantu nyonya bilas cucian dulu. Ciaooooo...!
*oce satria
