Tentang Puisi, Baper, dan Mutu




Cikarau: Oce Satria

(penyuka puisi, kopi, dan kamu)

Puisi itu bisa menjadi media menumpahkan isi hati: tentang hidup, tentang hubungan dgn orang lain, tentang cita-cita dan mereview masa lalu. 

Bisa juga untuk mendeskripsikan peristiwa (alam, metafisik, atau khayali) orang lain (keluarga, teman, tukang parkir, SPG di mal, atau ambtenar di kantor Disdukcapil yang kadang menjengkelkan), bahkan non orang (motor Vega R, sempak di jemuran dll). 

Puisi juga menyinggung soal cinta (asmara), cinta universal: tuhan, kehidupan, tokoh, atau kucing).

Semua itu tergantung penulis puisi. Tapi menafsirkan dan memaknainya terserah pembaca. Tafsirannya bisa macam-macam. Karena itu jangan baper dulu menganggap sebuah puisi otomatis gambaran kehidupan pribadi si penulis puisi.  Kadang singgungan si "aku", atau "kita" hanya cantelan saja. Jadi kalau ketemu puisi bertema cinta cara terbaik adalah menafsirkan sesuai kebutuhan kita. Tak perlu repot menyigi, menyelidik, menyidik, mentersangkakan, mendakwa, lalu menvonis si penulis puisi berdasarkan puisinya. 

Adakah puisi yang benar-benar bermutu? Entahlah. Sampai sekarang saya tidak terlalu percaya esai-esai yang ditulis pengamat sastra yang suka membedah lalu menaruh puisi ini di kotak sastra, puisi yang itu masuk kotak non sastra.

Puisi, pada akhirnya soal selera si penulis puisi bertemu dengan penikmat puisi. Sebuah puisi yang menurut kritikus sastra adalah puisi bermutu sastra tinggi tapi tak pernah ternikmati (minimal) oleh pembacanya, tiada artinya. Ia hanya akan berputar di lingkungan mereka-mereka saja. 

Puisi hanyalah abstraksi pikiran tentang nilai-nilai, fakta-fakta, dan cita-cita yang dihemat dalam sedikit kata-kata yang dipilih. Jadi, berpuisilah. Suka-suka aja.

#apologia