Pendapatku (tanpa dalil naqli) media doa itu "lisan" dan "tulisan". Bisa dilafazkan dengan mulut atau dituliskan. Berdoa dengan menuliskannya di medsos, sama saja ketika kita mengirim surat pada orangtua, anak, istri, suami atau saudara, kita melampirkan doa di dalamnya.
Perkara diijabah Allah, menurutku sepertinya boleh kita rujuk ucapan Sayyidina Umar;
"Kita tidak tahu dari mulut yang mana doa dikabulkan Allah."
"Mulut" itu menurutku sama dengan akun. "kita tidak tahu, dari akun yang mana doa dikabulkan Allah"
Lagi pula, ketika berdoa di medsos, peluang diaminkan oleh banyak orang lebih terbuka. Bukankah itu prospektif sekali?

