Hiperbola, Bahasa Olahraga





“SEMAKIN banyak kata yang dikuasai seseorang semakin banyak pula ide atau gagasan yang dikuasainya dan yang sanggup  diungkapkannya“. Gorys Keraf (2004: 13)

Penguasaan kita memang penting, terutama dalam ilmu semantik. karena dalam cabang ilmu linguistik ini bisa dipelajari tentang makna bahasa. Dalam praktik di dunia media massa (termasuk penyiaran), kekayaaan dan kemahiran menggunakan ragam makna ini penting. Apalagi kalau bukan untuk menarik pembaca atau penonton. 

Sejak akftif menjadi menjadi presenter sejak 2011, nama Valentino "Jebret" Simanjuntak kian tersohor dengan istilah-istilah aneh dan lebay yang ia gunakan. 

Misalnya, Umpan manja (Umpan yang begitu mudah), Tendangan LDR (Tendangan jarak jauh), Membuat prahara di Rumah Tangga (Merepotkan lini belakang), Tendangan PHP (Tendangan yang diharapkan mengarah ke gawang tapi melambung atau melebar).

Ada lagi seperti: Mantan Terundang, Duo bendungan jatiluhur, Lini jembatan ampera, Umpan yang menembus lambung, hati, dan jantung pertahanan,  Gelandang penimba sumur, Heading sang mantan yang tak mengena di hati, Gratifikasi umpan, Memperbesar jarak kapitalisasi skor. Dan banyak lagi.

Jauh sebelum Valentino Jebret memakai istilah lebay itu, wartawan olah raga telah menggunakan majas atau istilah-istilah yang yang hiperbola atau melebih-lebihkan terutama pada judul berita.  Hiperbola dilakukan untuk menambahkan kesan dramatis, memperhebat, dan memberi kesan atau pengaruh lebih. Demi memberi efek tertentu bagai pembaca.

Sekadar contoh, INDONESIA PERMALUKAN MALAYSIA 5-0,  atau CHELSEA BABAK BELUR DI TANGAN CITY (padahal mainnya pakai kaki), untuk mengesankan pertandingan dengan gol fantastis.

Untuk kompetisi dengan sistem penyisihan, sebuah grup yang berisi tim-tim hebat misalnya Jerman, Inggris, Spanyol, dan Italia, disebut GRUP NERAKA. 

Kalau seorang pemain tanpa sengaja mencetak gol ke gawang sendiri judul beritanya memakai GOL BUNUH DIRI (Gol Killing Self). Sementara untuk tim yang tak berkutik selama 2 x 45 menit harus rela disebut AYAM SAYUR. Istilah lain yang digunakan adalah MATI KUTU (kek kutu dipitek 😁).

Kemampuan tim yang berhasil menguasai jalannya pertandingan dipakai judul: PORTUGAL GULUNG BELGIA. Atau JERMAN DIKTE PERTANDINGAN. Jika mampu membuat lini tengah tak bisa berkembang judulnya begini: SWEDIA REDAM LINI TENGAH ITALIA.

Seorang pemain yang sangat berperan di lini tengah disebut JENDERAL LAPANGAN TENGAH, kebetulan ia juga kapten. 😀

Seorang mahasiswa FKIP Universitas Muhamadiyah sepuluh tahun silam pernah meneliti soal ini untuk skripsi S1-nya. Ia meneliti, dalam tabloid Bola yang dianalisis terdapat beberapa macam gaya bahasa seperti gaya bahasa klimaks, antiklimaks, aliterasi,asonansi, depersonifikasi, personifikasi, metonimia, repetisi, hiperbola, antitesis, paralelisme, dan prolepsis. Makna yang terdapat dalam masing-masing gaya bahasa di antaranya gaya bahasa aliterasi biasanya digunakan untuk memperindah suatu kalimat atau teks tersebut agar pembaca tertarik.

Ambil contok, kalimat  "Caroline Wozniacki malah belum sekalipun MENCICIPI gelar juara gran slam". Untuk menggambarkan bagaimana perjuangan seorang juara, wartawan menulis "Jika mau meraih mimpi, tak pelak, GAIRAH mesti DIGENJOT lebih kuat" .

Nah, begitulah bahasa wartawan olahraga. Lebay dan Hiperbola. Baideway, malam ini Portugal lawan Belgia, Belanda versus Rep Ceska, Anda pegang siapa?

Selamat menonton.

Pku26-6-2021
#Euro20/21